Tentang Perjalanan ke Papua #2
Karena kondisi yang belum stabil di Pegunungan Bintang, banyak relawan yang mengurungkan niat untuk berangkat, selain karena kendala finansial. Saya sendiri sempat merasa demotivasi untuk melanjutkan perjalanan ke Pegunungan Bintang karena berbagai ketidakpastian. Namun, berdasarkan informasi yang didapat, kondisi di desa penempatan sangat aman. Pergejolakan hanya terjadi di Oksibil sebagai pusat pemerintahan. Informasi lainnya yang kembali membangkitkan motivasi adalah bahwa kehadiran kami sudah sangat dinanti-nantikan oleh para murid, pengajar, dan masyarakat disana.
Setelah beberapa hari ditampung dan banyak dibantu oleh orang-orang baik hati, pada pagi buta, berangkat lah saya dan satu orang relawan lainnya ke Oksibil dengan menumpang pesawat kecil. Pemandangan yang sangat indah terlihat dari atas. Deretan gunung yang berlapis-lapis menunjukkan kemegahannya, sambil sesekali tersipu malu bersembunyi di balik awan dan kabut. Dari kejauhan, di antara lautan pepohonan, terdapat beberapa titik terbuka dengan jajaran rumah yang bersusun-susun. Saya sibuk menerka-nerka titik mana yang merupakan desa penempatan kami.
Daerah gunung, dari balik awan
Setibanya di Bandar Udara Oksibil, penjagaan oleh pasukan keamanan masih terlihat cukup ketat. Memberikan kesan yang kuat akan upaya stabilisasi atas daerah yang baru saja berselisih. Disambut oleh beberapa panitia dari Indonesia Mengajar dan Wanadri, kami diantar ke markas Koramil untuk beristirahat sejenak melepas lelah selama perjalanan.
Singgah sebentar di Oksibil, menyempatkan diri berjalan-jalan keliling kota. Impresi yang didapat justru berbeda dari spekulasi. Untuk daerah yang baru saja diterpa konflik, kota ini justru sangat tenang seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya. Masyarakat beraktivitas normal seperti biasa, walaupun beberapa kios terlihat masih tutup karena sang pemilik sedang mengungsikan diri ke kota lain.
Masyarakatnya sendiri sangat ramah dan terbuka. Dengan seketika menghapus paradigma yang melekat bahwa orang-orang Papua, khususnya yang tinggal di daerah gunung, adalah orang-orang yang kasar dan menutup diri dari dunia luar. Bahkan bagi saya sendiri, masyarakat “gunung” ini jauh lebih ramah daripada mereka yang menetap di ibukota provinsi.
Selesai singgah, siang harinya kami menuju ke Desa Okatem dengan naik ojek terlebih dahulu. Selanjutnya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki karena tidak tersedianya akses jalan. Kami dikelilingi oleh hutan dengan kondisi jalanan yang cukup ekstrim berbatu-batu yang menyebabkan perut menjadi agak mual. Sesekali melewati tanah yang basah dan licin sehingga menuntut keahlian pengendara agar motor tidak kepeleset dan terperosok. Tidak heran jika ongkos sekali jalan mencapai 100.000 rupiah.
Di tengah perjalanan, kami melewati sungai dimana terdapat anak-anak kecil atau biasa disebut yambul main air. Tanpa diduga, beberapa anak berseru menyambut, “Ibu guru!”, yang menandakan bahwa mereka sudah mengetahui kedatangan kami. Sampai mata jalan, kami lanjut berjalan kaki melewati medan yang cukup landai untuk menuju ke desa. Jalanan masih berupa tanah dan batu, belum terlihat adanya intervensi pihak luar terkait pembangunan jalan.
Kami bertemu lagi dengan anak-anak yang mengenakan seragam SD yang berasal dari Desa Okun, salah satu desa terdekat dari Okatem. Mereka menempuh pendidikan di SD yang terdapat di Desa Okatem sebagai tempat bersekolah terdekat, yaitu SD Inpres Argapilong. Sama seperti anak-anak yang kami temui di sungai, mereka pun sudah mengetahui kami siapa dan datang untuk apa, sehingga mereka menyapa kami dan bersalaman dengan malu-malu.
“Yepmum!”
Salam dengan mengapitkan jari telunjuk dan jari tengah adalah hal yang lumrah terjadi di Papua sebagai bentuk interaksi awal. Hal itu yang saya lakukan setiap kali berpapasan dengan masyarakat di sini. Mengapitkan jari tangan masing-masing lalu ditarik sampai menimbulkan bunyi, bunyi tersebut dipercaya sebagai tanda bahwa jiwa kami sudah diterima oleh alam Papua. Ketika melewati sungai, kami bertemu dengan seorang wanita Papua yang sedang membawa noken (tas kerajinan asli Papua) berisi kayu di kepala sambil menggendong anaknya di pundak. Beliau pun sudah mengetahui tentang kehadiran kami dan dengan ramah menyapa sambil bersalaman jari.
“Ibu guru dua!”

Ternyata di Papua ada salam 2 jari ya (Salam dengan mengapitkan jari telunjuk dan jari tengah) saya baru tau, thanks infonya ya
ReplyDelete