Tentang Perjalanan ke Papua #4
Berada jauh dari derasnya arus teknologi dan informasi membuat mereka lebih menghargai interaksi tatap muka. Tidak tersedianya sinyal menjauhkan mereka dari intervensi dunia maya. Hiburan mereka sangat nyata. Setiap sore, mereka bermain sepak bola dan bola voli di lapangan. Yambul-yambul senang sekali bermain “nging-nging”, mainan yang mereka buat sendiri. Mainan dari tutup kaleng dengan lubang di tengah untuk dimasukkan benang atau tali, dimainkan dengan cara diputar-putar sambil kemudian ditarik. Mereka juga memanfaatkan wadah plastik bekas biskuit untuk dijadikan mainan mobil-mobilan yang diikat dengan tali agar bisa digerakkan. Di tempat ini, kebahagiaan benar-benar sangat sederhana.
Setiap petang di Desa Okatem
Rasanya sangat menyenangkan bisa merasakan harmoni dengan alam. Alam melimpahkan hampir semua kebutuhan dasar yang mereka perlukan untuk dapat hidup. Seringkali alam menjadi guru, mengajarkan ilmu-ilmu kehidupan. Sedang manusia menjadi murid, menjaga agar gurunya tetap lestari. Keharmonisan dengan alam dapat dilihat dalam keseharian, sampai-sampai semua warga tidak memerlukan alas kaki sebagai pelindung. Mereka sudah terbiasa bersentuhan langsung dengan alam. Setiap pagi, disambut cerahnya mentari. Setiap malam, tidur beratapkan bintang.
Sumber pangan diberlimpahkan langsung oleh alam. Selain sagu, ubi jalar adalah makanan pokok masyarakat Papua, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan. Begitu juga halnya dengan masyarakat di Pegunungan Bintang, yang mengenal ubi jalar (boneng) sebagai makanan pokok mereka. Setiap pagi, warga yang sudah dewasa, terutama mama-mama, pergi ke kebun boneng untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Ketika sore, mereka kembali ke rumah untuk berkegiatan di dapur. Pagi, siang, dan malam mereka menyantap boneng. Dalam pengolahan makanan, mereka belum terlalu banyak menggunakan bumbu. Kebanyakan langsung disantap sebagaimana adanya, asalkan sudah matang.
Saya sendiri mencoba banyak makanan baru selama tinggal di Desa Okatem, seperti tebu yang langsung digerogoti dan tentunya boneng. Yang paling unik adalah mencoba memakan daging kuskus dan berudu (aning) dengan cita rasanya masing-masing. Untuk pertama kalinya juga saya mencoba memasak di atas tungku api menggunakan kayu bakar. Cara-cara yang digunakan di desa ini masih sangat tradisional.
Okatem (nama anak ini Okatem betulan) memakan tebu
Dalam suatu kesempatan, kami ingin memperkenalkan jenis masakan yang lain kepada warga. Jadilah kami memasak kolak ubi di dapur kepala desa untuk disantap bersama-sama sambil berbincang menghabiskan malam. Pada kesempatan yang lain, anak-anak mencoba makan rendang yang saya bawa dari rumah. Mereka sangat suka. Mereka menyantap rendang sampai habis hanya dalam hitungan detik, sampai plastiknya pun dijilati juga.
Berkenalan dengan dunia yang baru, kemampuan beradaptasi sangat diperlukan. Mencoba menjalani kehidupan sebagaimana yang mereka jalani. Melebur dengan alam, merasakan derasnya air sungai untuk mandi dan mencuci. Kami pun sempat mengadakan kelas alam. Selepas kelas, mereka boleh bermain dan bersih-bersih diri di sungai. Tanpa alas kaki, mereka berjalan dengan lincahnya. Melompat-lompat dari satu batu ke batu yang lain, tanpa pernah ada satu pun dari mereka yang tergelincir. Sementara saya sendiri berjalan lambat-lambat dan sangat berhati-hati agar tidak terjatuh, sambil dijaga oleh seorang anak kelas 1 yang bernama Yakwol. Yakwol terus-terusan memegang tangan saya ketika menelusuri sungai.
“Injak yang ini saja Ibu Guru, itu licin. Sa tidak mau Ibu Guru jatuh”
Berkegiatan di sungai. Dari mencuci baju, main lempar-tangkap bola, sampai keramasin Yakwol :)
Pada suatu sore, saya berjalan-jalan keliling desa ditemani tiga orang anak: Daktela, Eva, dan Okatem. Kami melewati kandang babi yang merupakan hewan ternak utama. Tidak jauh dari kandang babi, terdapat juga kolam ikan, yang dimiliki oleh segelintir warga. Yang paling membuat saya terkejut adalah bahwa peternakan sapi juga sudah mulai digarap, walaupun dengan pengetahuan yang terbatas. Sapi didatangkan dari pulau seberang ke pelosok-pelosok Papua. Salah satu program pemerintah untuk mendukung pembangunan desa dalam aspek peternakan dan budidaya. Sayangnya, hewan-hewan ternak tersebut hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka saja, belum untuk diperdagangkan. Tentunya, harus didukung dengan edukasi dalam bidang perdagangan dan sistem ekonomi desa.


Comments
Post a Comment