Tentang Perjalanan ke Papua #3
Akhirnya, sampai lah kami di Desa Okatem, disambut oleh pemandangan yang asri dan damai. Jauh dari hiruk pikuk bisingnya dunia luar. Ketika memasuki desa, kami melewati deretan rumah yang berhadap-hadapan. Kami disambut oleh penduduk desa yang sangat ramah dan terbuka kepada pendatang, sambil bersalaman jari kepada siapa saja yang dijumpai. Terasa cukup sakit jika belum terbiasa.
Jajaran rumah, Desa Okatem
Jika sebelumnya saya mengatakan bahwa penduduk lokal yang saya jumpai di Oksibil lebih ramah daripada mereka yang saya jumpai di ibukota, kali ini saya dapat mengatakan bahwa penduduk Desa Okatem bahkan lebih ramah daripada mereka yang tinggal di Pulau Jawa sekalipun. Dugaan dan kecemasan saya benar-benar bertolak belakang dengan apa yang saya temui di desa yang terpencil ini. Bahwa semakin terpelosok, semakin mereka menghargai hubungan antar manusia, tidak peduli warna kulit dan jenis rambutnya. Terutama bagi orang-orang yang datang membawa misi kemanusiaan.
Kami terus berjalan menuju rumah penempatan Pengajar Muda Indonesia Mengajar, Kak Atika yang luar biasa. Ketika sampai, kami disambut oleh Kak Atika dan anak-anak yang akan menjadi murid kami selama beberapa waktu ke depan. Dari kejauhan tadi, sayup-sayup saya dapat mendengar mereka berteriak berseru-seru melihat kedatangan kami, tetapi ketika kami sampai mereka hanya tersenyum malu-malu. Reaksi yang umum terjadi pada anak-anak. Sudah terperkirakan. Menandakan diperlukannya pendekatan.
Selama di desa, hampir setiap malam, kami berkeliling untuk bersilaturahmi. Masuk ke rumah-rumah warga untuk berkenalan dan berbincang-bincang. Semua warga lokal yang saya temui sangat ramah dan terbuka. Kesulitan dalam pemaknaan bahasa tidak menjadi kendala yang berarti. Sebagian besar penduduk lokal fasih berbicara bahasa Indonesia, meskipun menggunakan diksi-diksi yang paling baku. Namun, masih terdapat warga yang tidak mengerti bahasa Indonesia karena hanya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa ibunya, yaitu bahasa Ngalum. Terutama anak-anak kecil dan orang-orang tua. Kami pun terlarut dalam interaksi. Mulai dari menyapa, bersalaman, berkenalan, berbincang-bincang, disuguhi makanan, sampai tidak terasa bahwa malam semakin malam.
Bincang-bincang malam di salah satu dapur warga
Kesempatan untuk menjadi pengajar di pedalaman adalah hal yang akan selalu saya syukuri. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di SD Inpres Argapilong yang terletak di Desa Okatem untuk kelas 1-6. Pernah beberapa kali merasakan pengalaman mengajar di kota yang lebih besar, perbedaan sangat kentara. Di pelosok Papua, murid-murid sangat menghormati dan menghargai guru, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas. Mereka sangat mandiri, sopan, dan patuh. Tidak terlalu sulit untuk membangun suasana yang kondusif dalam kegiatan belajar-mengajar. Setiap sebelum pelajaran dimulai, mereka berinisiatif untuk bersih-bersih kelas terlebih dahulu. Antusiasme yang ditunjukkan juga sangat besar, terutama jika menyelipkan permainan di antara materi pelajaran.
Antusiasme di dalam kelas
Sayangnya, perbedaan juga terlihat jelas pada fasilitas penyokong pendidikan yang sangat terbatas. Materi-materi yang diajarkan juga jauh lebih sederhana. Ketimpangan dan tidak meratanya kualitas pendidikan di seluruh pelosok Indonesia memang merupakan isu yang telah lama saya ketahui. Yang berbeda, kali ini saya dapat mengamati dan terjun langsung, tidak hanya melihat melalui pemberitaan dari berbagai media.
Pada saat mengajarkan materi tentang profesi untuk kelas 3-6, anak-anak diminta untuk menempelkan tulisan tentang cita-cita mereka ke sebuah karton yang dipajang di depan kelas. Mereka menuliskan berbagai macam cita-cita seperti guru, polisi, tentara, dokter, dan suster. Namun, sebagian besar dari mereka bercita-cita untuk menjadi guru.
Alasan di balik cita-cita tersebut rupanya sangat menyentuh. Mereka berkata bahwa mereka ingin menjadi guru supaya dapat mencukupi ketersediaan pendidik di tanah lahir mereka. Supaya anak-anak di pelosok Papua tidak perlu lagi berjalan kaki jauh-jauh ke sekolah hanya untuk mendapati gurunya tidak hadir. Sebagaimana ketidakhadiran guru di pedalaman Papua merupakan hal yang lumrah terjadi. Pada akhirnya, mereka ke sekolah hanya untuk bermain, tanpa mendapat ilmu yang berarti. Kemungkinan terbaik jika mereka dapat mengisi waktu dengan membaca buku, yang sebetulnya dapat mereka lakukan di rumah, tanpa perlu jauh-jauh ke sekolah.
Harapan masa depan
Jika diukur menggunakan indikator-indikator formal sebagai standardisasi pendefinisian kualitas pendidikan, Papua mungkin tertinggal. Namun kita sering lupa, bahwa alam merupakan pendidik yang sebenarnya. Anak-anak di pelosok Papua mungkin lebih hebat dalam menyerap dan mengaplikasikan ilmu yang dititipkan Tuhan melalui semesta. Ilmu yang tidak dapat ditemukan dalam kurikulum pendidikan formal mana pun.
Alam menempa semangat dan mental yang sekuat baja. Banyak dari mereka harus berjalan jauh membelah hutan tanpa alas kaki hanya untuk dapat hadir di sekolah. Semangat yang sama juga ditunjukkan di dalam kelas; menyerap pengetahuan baru dengan antusias, melihat dunia yang luas walaupun media terbatas. Mereka lah anak-anak didikan alam, yang lahir dan besar di atas pangkuan sang guru.




Comments
Post a Comment