Tentang Perjalanan ke Papua #1

“Kami sangat senang, karena Ibu Guru datang untuk manusia, bukan untuk (mengambil) tanah kami”


Berkunjung ke tanah Papua bulan April lalu. Diwarnai respon yang berbagai rupa dari orang-orang terdekat, terutama agar selalu waspada dan berhati-hati. Rawan, katanya. Terlebih, daerah yang saya tuju berada di ujung timur Indonesia, yakni Pegunungan Bintang. Jauh dari peradaban aman bin nyaman ala perkotaan, untuk mengabdikan diri dalam kegiatan kerelawanan bernapaskan pendidikan.

Siang hari sebelum berangkat, rasanya kekhawatiran mereka seperti terbukti. Saya sedang memeriksa kembali segala peralatan dan perbekalan ketika mendapatkan berita tentang konflik yang terjadi di Oksibil (distrik pusat pemerintahan Pegunungan Bintang). Masyarakat disana melakukan demonstrasi besar-besaran setelah acara puncak HUT Pegunungan Bintang karena penyelenggaraan acara tidak seperti yang diharapkan. Ribuan masyarakat turun ke jalan yang berujung pada pembakaran panggung dan rumah bupati. Kericuhan ini disinyalir akan berlarut karena masyarakat menagih janji yang tak kunjung ditepati.

Berita tentang kerusuhan yang terjadi di Oksibil siang itu tidak mengurungkan niat saya sedikit pun untuk tetap melakukan perjalanan ke Papua. Begitu juga kasus penyanderaan di Pegunungan Bintang beberapa minggu sebelumnya. Tidak ingin meninggalkan kecemasan, saya berpamitan dan meyakinkan orang-orang terdekat bahwa kondisi akan kembali aman. Terbang lah saya ke Papua pada malam harinya, tanpa beban dan tanpa ekspektasi yang berlebihan.

Danau Sentani, Papua

Menjejakkan kaki di tanah Papua untuk pertama kalinya. Berpijak di bawah langit yang megah ini selama belasan hari ke depan. Disambut beberapa porter yang menawarkan jasa mengambil barang bawaan dari bagasi. Mereka sudah siap menyambut penumpang pesawat dengan troli di tangan masing-masing. Sempat bingung pada awalnya, apakah ini salah satu service gratis yang ditawarkan dari pihak bandara atau harus membayar jasa angkut kepada porter yang bersangkutan. Ternyata yang kedua adalah jawabannya.

Setiap tempat sungguh mempunyai warna dan impresi tersendiri. Karena itu, saya sangat menyukai perjalanan, baik berkelana sendiri maupun beramai-ramai. Selalu ada hal yang baru untuk memperkaya cerita dan pengalaman hidup. Bagi saya sendiri, Papua itu megah dan penuh misteri. Di belahan bumi pertiwi yang kaya ini, deretan gunung yang terselimut kabut akan menyambut, bahkan di dataran yang rendah sekali pun.

Di hamparan tanah yang seluas ini, infrastruktur masih kurang memadai, terutama dalam hal transportasi. Medan yang berat dan keterbatasan akses lewat jalur darat mengharuskan penggunaan pesawat untuk bepergian antar kota, dengan kondisi alam yang mendukung sebagai syarat. Tidak jarang pihak maskapai menunda penerbangannya jika terjadi hujan, badai, dan faktor cuaca lainnya.

Konflik di Oksibil dikabarkan akan berlarut selama beberapa hari. Bandar Udara Oksibil dipalang sehingga tidak memungkinkan untuk langsung pergi kesana. Melewati Danau Sentani yang luas, terus melaju menuju Kota Jayapura untuk menginap terlebih dahulu di rumah kawan dari kawan dari kawan. Tidak keliru, relasi antara kami benar-benar ada di lapisan perkawanan ketiga. Salah satu bukti nyata bahwa kita dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati─bahwa orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya rela membantu tanpa intensi akan kompensasi.

Jika dikatakan bahwa harga barang-barang di Papua mahal, hal itu benar adanya. Perihal peredaran uang, 50.000-100.000 rupiah dapat dikatakan tidak terlalu bernilai harganya, berbeda dengan di Pulau Jawa. Di beberapa tempat wisata, warga lokal terkadang mengharuskan kita membayar uang tambahan di luar dari tiket masuk dengan dalih “uang parkir”. Dalam kejadian yang lebih ekstrim, jika duduk-duduk di pendopo pinggir pantai dapat dikenakan biaya tambahan sampai sebesar 200.000 rupiah. Setidaknya hal ini yang saya alami dan amati di Jayapura, selain mencoba papeda, sate rusa, dan banyak hal baru lainnya.


Pantai Base-G, Jayapura

Comments

Popular Posts