Sebuah selebrasi untuk menutup kuarter dengan bepergian ke 3 negara di Eropa, dalam waktu 5 hari saja.
Sore ketujuh belas di bulan April, selepas ujian akhir kuarter, saya mengayuh sepeda lebih kencang dari biasanya. Terburu-buru meluncur dari kampus menuju rumah dengan perasaan campur aduk: lega, panik, dan antusias. Lega karena baru saja selesai ujian, panik karena belum sempat packing, dan antusias karena rindu jalan-jalan. Sebuah selebrasi untuk menutup kuarter dengan bepergian ke 3 negara di Eropa, dalam waktu 5 hari saja.
Perjalanan kali ini tidak sendirian, tetapi bersama dua orang teman. Dari Delft, kereta meluncur menuju Amsterdam. Kemudian, naik bus malam ke Zurich dengan jarak kurang lebih 800 km. Perkiraan sampai di Zurich jam 10 pagi esok hari, malam ini akan kami habiskan di bus. Kami memakai tiket flixbus dengan tarif 100 euro untuk 5 destinasi kemana pun di Eropa (dengan rute yang ada di jadwal keberangkatan). Tidak mau rugi, kami pilih rute yang jauh-jauh: Amsterdam-Zurich, Zurich-Budapest, dan Vienna-Amsterdam (untuk rute Budapest-Vienna, kami tidak pakai flixbus karena jaraknya dekat). Alhasil, harus bermalam di bus yang ternyata bisa jadi opsi penginapan gratis, biarpun harus siap-siap pegal linu hehehe.
Negara pertama adalah Swiss, dengan destinasi Zurich, Engelberg, dan Luzern. Sesampainya di Zurich, kami langsung meluncur menuju Engelberg dengan kereta. Tujuan kami adalah Mount Titlis untuk melihat gunung es dan salju abadi. Karena kombinasi antara harga tiket yang mahal dan keringnya kantong kami sebagai mahasiswa (yang bergantung pada beasiswa), kami berencana hanya setengah jalan saja sampai Trubsee. Tapi, ternyata harga tiket sampai ke Titlis jauh lebih murah dari yang dibayangkan yaitu 54 euro (tadinya kami cek di internet 90 euro an). Jadi, yaaa gaspol sampai ke Titlis supaya tidak kentang alias kena tanggung hehehe. Dan, gak nyesel, asli, Titlis is surreal! Bagus banget! Apalagi buat manusia-manusia tropis yang jarang lihat salju ini (salju di Belanda cuma bertahan satu hari, besoknya lenyap. Kalau angin, banyak) :')
 |
| Eternal snow (with me in the middle :p) |
 |
| Eternal snow |
 |
| The cable car |
Selain Mount Titlis, kami juga sempat mampir ke Luzern, sebuah kota yang cantik di Swiss. Sayangnya cuma sebentar, karena harus mengejar kereta untuk kembali ke Zurich. Esoknya, hampir seharian kami muter-muter di Zurich. Yang paling penting kalau mau berkeliling di kota mana pun, jangan sampai lupa beli daycard yang bisa didapat di stasiun terdekat. Karena kalau beli tiket satuan mahalnya ampun-ampunan hehe. Berhubung biaya hidup di Swiss terbilang mahal dibandingkan negara lain di Eropa, indomie adalah kuncian yang harus dibawa untuk makan malam. Untuk makan siang, McD selalu jadi opsi utama (itu pun tetap mahal, compared to McD di tempat lain hiks). Malamnya, naik bus menuju Budapest sampai pagi. Lagi-lagi, tidur di bus. Namanya juga low budget traveling hehehe :')
 |
| Melipir sebentar ke Luzern |
 |
| In the heart of Zurich |
 |
| Bendera Swiss berkibar dimana-mana |
Negara kedua adalah Hungaria, tepatnya di Budapest. Budapest is sooo pretty! Dinamakan Budapest karena terdapat sungai yang lebar memisahkan Buda dan Pest. Layaknya setiap kota, Budapest punya warnanya sendiri. Kota cantik dengan bangunan-bangunan yang indah tapi tidak angkuh, berbeda dengan tipikal bangunan di belahan Eropa lainnya. Biaya hidup disini terbilang cukup murah. Untuk makan, penginapan di pusat kota, daycard transportasi dalam kota, semuanya terjangkau! Jadi cocok untuk low budget traveler seperti saya huehehe. Berkunjung ke Budapest pada peralihan musim semi menuju musim panas, kami disambut matahari yang super terik tanpa awan. Karena matahari mulai terbenam sekitar jam 9 malam, kami bisa berkeliling sampai malam tanpa takut kehabisan waktu buat foto-foto hehe. The thing is, malam atau siang, cantiknya sama saja. Rasanya berjalan-jalan di pinggir sungai Budapest sambil menunggu matahari terbenam is trully a blessing. Budapest is definitely one of my favorite cities. Sayangnya, kami cuma menghabiskan satu malam di kota ini.
 |
| Jembatan yang menghubungkan Buda dan Pest |
 |
| River in the heart of Budapest |
 |
| Salah satu bangunan iconic di Budapest, dilihat dari seberang |
 |
| Day or night, Budapest is still pretty |
 |
| That famous landscape |
Hari keempat, kami menuju kota destinasi terakhir yaitu Vienna di Austria. Karena jaraknya yang dekat dengan Budapest, kali ini kami tidak harus tidur di bus seperti malam-malam sebelumnya. Perjalanan dari Budapest menuju Vienna bisa ditempuh dengan bus dalam waktu 2-3 jam saja. Hari yang kami lalui di Vienna cukup panjang. Tidak seperti di Budapest pada hari sebelumnya, kami harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak cukup jauh. Thanks to daycard that made us survive this trip. Berjalan-jalan sambil menunggu malam, kemudian bersiap pulang ke Amsterdam dengan bus. Perjalanan dari Vienna menuju Amsterdam akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 17 jam. Malam ini akan nginep gratis lagi alias tidur di bus hehehe.
 |
| Sebuah bangunan gereja di Vienna |
 |
| Pusat kota Vienna |
 |
| Lorong gedung kosong |
Sekian perjalanan singkat bulan lalu ke 3 negara untuk mengakhiri kuarter ketiga sekaligus menyambut kuarter keempat. Baru ditulis karena baru sempat menulis. Namanya juga mahasiswa, mahasiswa teknik lagi. Hehehehe :D
Cheers,
Ginta
Comments
Post a Comment