Tentang Perjalanan ke Papua #5
Masyarakat desa masih memegang teguh adat dan tradisi. Salah satu kegiatan adat yang paling sering dilakukan adalah upacara bakar batu. Upacara ini dilakukan sebagai wujud perayaan akan suatu hari yang istimewa, seperti hari raya. Pada acara adat ini, mereka akan menghidangkan daging babi dan buah merah untuk dimakan bersama-sama. Mereka juga masih menggunakan senjata tradisional yang berupa panah dengan busur. Senjata ini disebut ebon, yang pada zaman dahulu digunakan untuk berperang.
Pakaian adat dan ebon
Di antara masyarakat juga terdapat para sesepuh yang berumur hampir satu abad. Mereka tidak dapat menggunakan bahasa Indonesia, sehingga saya menggunakan bahasa yang paling universal pada setiap interaksi─senyum dan salam. Bahasa yang dapat dimengerti oleh semua orang di belahan dunia mana pun. Mereka tidak kalah ramah dengan warga yang lain, meskipun tidak satu bahasa.
Salah satunya adalah Kakek Zakarias yang hampir setiap hari pergi ke kebun. Sekembalinya dari kebun, selalu berbagi tebu yang diambilnya sebelum petang. Ternyata beliau senang difoto. Ketika melihat hasil fotonya di kamera, beliau tertawa senang sampai-sampai mencubit pipi dan hidung saya. Ada juga kakek yang lain, yang baru bertemu menjelang kepulangan. Sama seperti Kakek Zakarias, tidak mengerti bahasa Indonesia. Berkenalan sebentar, berinteraksi walau beda bahasa, kemudian saya diberikan banyak boneng sebagai oleh-oleh. Warga di sini sangat senang berbagi.
Kakek Zakarias, sebelum tertawa senang melihat gambarnya sendiri di kamera
Salah satu keunikan lain yang dimiliki oleh masyarakat Papua dapat dilihat pada rambut perempuannya. Menjelang dewasa, perempuan Papua gemar mengepang atau menganyam rambut kecil-kecil sehingga terbentuk pola yang unik. Dalam berbagai kesempatan, murid-murid gemar memainkan rambut saya untuk dianyam-anyam sedikit. Namun, berulang kali gagal membentuk anyaman kecil-kecil karena licin. Pada malam sebelum pulang, akhirnya rambut saya dianyam oleh Mama Eper, sang maestro anyam. Supaya cocok jadi warga lokal, katanya.
Buatan Mama Eper, sang maestro anyam
Saya teringat pada suatu malam, saya sedang berbincang-bincang hangat dengan Bapak Karel, Kepala Desa Okatem. Beliau mempunyai harapan yang begitu besar terkait pembangunan desa, baik secara infrastruktur, pemanfaatan sumber daya alam, maupun sumber daya manusianya. Kata-kata yang paling membuat saya tersentuh adalah:
“Supaya nantinya anak-anak saya bisa jadi manusia. Sekarang masih seperti ini, belum jadi manusia.”
Harapan itu tidak hanya disematkan untuk pemerintah, tetapi kepada siapa saja yang mau peduli dan mau membantu kemajuan di Papua. Kontribusi sekecil apa pun sangat berguna bagi mereka.
“Supaya nantinya anak-anak saya bisa jadi manusia. Sekarang masih seperti ini, belum jadi manusia.”
Harapan itu tidak hanya disematkan untuk pemerintah, tetapi kepada siapa saja yang mau peduli dan mau membantu kemajuan di Papua. Kontribusi sekecil apa pun sangat berguna bagi mereka.
Akhirnya tiba hari kepulangan setelah beberapa hari tinggal bersama warga Desa Okatem. Ketika hendak pulang, ada seorang anak, Aprang namanya, yang menghampiri dan memberikan noken miliknya sendiri. Noken yang biasa digunakannya untuk sekolah dan berkegiatan sehari-hari.
Kemudian saya bertanya, “Ko nanti ke sekolah pakai apa?”
Ia menjawab, “Tenang sudah Ibu Guru, nanti sa bisa buat yang baru. Ini kenang-kenangan untuk Ibu Guru.”
Ada anak lain yang menambahkan, “Ibu Guru di sini hanya sebentar saja, tidak sempat kami buatkan noken yang baru.”
Lalu saya terharu. Ternyata kebahagiaan se-sederhana itu─merasakan ketulusan mereka dalam membagi apa yang mampu mereka bagi. Walaupun serba terbatas tidak menjadi restriksi untuk saling mengasihi.
Melangkah dengan berat meninggalkan Desa Okatem. Keramahan dan kehangatan warga membuat saya enggan untuk pulang. Diiringi yambul-yambul yang ingin mengantarkan sampai mata jalan. Berjalan kaki selama 90-120 menit untuk dapat mencapai akses jalan yang dapat dilalui kendaraan. Terus turun ke bawah, membelah hutan menuju kota. Melewati tiga desa lainnya: Atembakon, Moldusit, dan Yapi. Sesampainya di Yapi, sinyal mulai muncul meskipun belum stabil. Dari Yapi, lanjut naik ojek menuju ke Koramil.
Yambul-yambul yang turut menyertai
Pesawat Oksibil-Sentani dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung, mengharuskan saya menginap di Koramil selama 2 malam. Ditemani para panitia sampai detik-detik sebelum lepas landas. Dari Oksibil menuju ke Sentani untuk lanjut ke Jakarta dengan terlebih dahulu transit di Makassar. Sampai di rumah dengan terbekali pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa.
Berkelana menuju pelosok negeri sebagai salah satu upaya untuk mengenal lebih dekat bangsa sendiri. Jauh dari zona nyaman, tanpa akses jalan, tanpa sinyal, tanpa kasur, tanpa listrik, tanpa air bersih, dan banyak ketiadaan lainnya. Berada di tengah-tengah masyarakat, melebur dengan segala keterbatasan dan keberlimpahan yang dianugerahi alam. Merasakan kearifan lokal, mengalami hal-hal yang tidak dapat dijumpai di kota-kota besar. Menjalani kehidupan yang sangat murni, menjadi cara yang tepat untuk detoksifikasi diri. Karena keterbatasan yang ada justru membuat kita semakin memaknai, menikmati, dan mensyukuri hidup.
Yang bikin kangen :')
Rasanya kurang pantas jika mengatakan bahwa saya hadir di Papua untuk mengajar, karena justru saya lah yang banyak belajar.
Terima kasih, Papua! Pengalaman dan pembelajaran yang tiada dua! Kembali bersua :)
Salam,
Angginta R. Ibrahim

Comments
Post a Comment