Menjadi Relawan: Memberi dan Diberi
Menjadi relawan membuat saya lebih mensyukuri dan menghargai hidup, serta lebih membuka mata dan hati dalam melihat dunia.
Senang rasanya mengetahui banyaknya niat baik dari orang-orang di sekitar saya, yang ditunjukkan lewat antusiasme dan tanggapan positif atas kegiatan kerelawanan yang saya ikuti. Banyak teman yang bertanya-tanya, banyak juga yang tertarik untuk ikut kontribusi. Hal ini membawa kabar baik, bahwa masih banyak anak bangsa yang peduli terhadap sekitar. Tetapi, banyak juga yang belum tahu bagaimana menyalurkannya. Karenanya, saya ingin berbagi pandangan dan pengalaman tentang menjadi relawan melalui tulisan.
Kepekaan sosial rasanya sudah menjadi hal yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Sebagaimana sejak dulu budaya kita sendiri sudah mengajarkan apa yang kita kenal dengan "gotong royong". Sebuah identitas bangsa untuk bergerak bersama-sama dan saling membantu, tanpa memandang strata dan status sosial. It's in our blood, semacam legacy turun-temurun dari para pendahulu. Dan nampaknya, perkembangan zaman tidak sepenuhnya mengikis tradisi. Pasalnya, Indonesia dinobatkan sebagai negara yang paling dermawan di dunia pada tahun 2018 oleh Charities Aid Foundation (CAF). Yang dinilai berdasarkan tiga aspek kebaikan, yaitu 'membantu orang yang tidak dikenal', 'memberi sumbangan', dan 'menjadi relawan'.
Banyak yang bertanya apa yang menjadi motivasi saya terlibat dalam kegiatan kerelawanan.
"Kok mau sih jauh-jauh ke pedalaman Papua untuk ngajar?"
"Kok mau sih jauh-jauh ke pedalaman Papua untuk ngajar?"
"Kok nekat sih pergi ke Afrika untuk jadi relawan?"
Motivasi lahir salah satunya dari target pencapaian yang ingin diwujudkan, yang berbeda maknanya bagi setiap individu. Bagi sebagian orang, kebermanfaatan adalah suatu bentuk pencapaian yang paling ideal dan membahagiakan, terlebih ketika kita dapat memberikannya melalui hal yang kita mampu dan senangi. Sambil meyakini bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat bagi manusia yang lain. Karena hidup bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan juga tentang dampaknya bagi orang lain.
Awalnya, saya tidak mengetahui ruang-ruang kontribusi mana saja yang dapat saya masuki. Sampai akhirnya kegiatan sosial menjadi semacam adiksi, menjadi salah satu cara bagi saya untuk menikmati dan memaknai hidup. Ketika memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, sekecil apa pun itu, ada kebahagiaan yang menyertai. Bahwa hal kecil yang kita berikan dapat menjadi sangat berarti bagi orang lain. Maka, saya terus mencari dan memasuki ruang demi ruang, sering kali sambil traveling. Karena, bagi saya pribadi, perjalanan yang ideal adalah perjalanan yang penuh arti. Bukan hanya perihal menjejakkan kaki pada destinasi, melainkan juga sambil belajar dan berbagi.
Setiap kegiatan kerelawanan yang saya ikuti punya kisah dan kesan masing-masing. Menjadi relawan pendidikan di pelosok Papua, pemberdayaan perempuan di Kenya, dan beberapa kegiatan lain, menawarkan ceritanya sendiri-sendiri. Kesamaannya, setiap kegiatan mempertemukan saya dengan orang-orang hebat yang bisa menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari sesama relawan, sampai mereka yang menjadi sasaran kegiatan. Yang juga mengesankan adalah bagaimana saya dituntut untuk beradaptasi dan terus-terusan mengolah ekspektasi. Juga menjunjung toleransi untuk menghargai perbedaan yang ada. Menjadi relawan membuat saya lebih mensyukuri dan menghargai hidup, serta lebih membuka mata dan hati dalam melihat dunia.
Dengan menjadi relawan, tidak hanya kita bisa menolong orang lain, tetapi juga menolong diri sendiri, terutama dalam pengembangan diri dan ketentraman nurani. Pembelajaran yang didapatkan sangat berharga, yang tidak dapat ditemukan di dunia pendidikan formal atau pun profesional, yaitu tentang nilai dan makna kehidupan. Berkumpul dengan mereka yang bervisi sama, kita dapat memperluas jejaring kontribusi dan dedikasi yang positif bagi kemasyarakatan. Namun, terkadang, kamu bisa merasa bahwa dampak yang kamu berikan tidak seberapa, dan mulai mempertanyakan pengaruh dari kehadiranmu. But, you can't change the world in one second. All you can do is to put effort and give your best in every opportunity to do good.
Dengan menjadi relawan, tidak hanya kita bisa menolong orang lain, tetapi juga menolong diri sendiri, terutama dalam pengembangan diri dan ketentraman nurani. Pembelajaran yang didapatkan sangat berharga, yang tidak dapat ditemukan di dunia pendidikan formal atau pun profesional, yaitu tentang nilai dan makna kehidupan. Berkumpul dengan mereka yang bervisi sama, kita dapat memperluas jejaring kontribusi dan dedikasi yang positif bagi kemasyarakatan. Namun, terkadang, kamu bisa merasa bahwa dampak yang kamu berikan tidak seberapa, dan mulai mempertanyakan pengaruh dari kehadiranmu. But, you can't change the world in one second. All you can do is to put effort and give your best in every opportunity to do good.
Tentunya, menjadi relawan tidak selalu tentang perjalanan jauh ke pelosok Papua atau Afrika. Kamu bisa berbuat baik dimana pun, dan dengan cara apa pun. Bisa dimulai dengan proksimitas terdekat: lingkungan sekitarmu. Coba untuk melihat lebih dekat ke sekelilingmu, betapa banyak orang yang juga membutuhkan bantuan. Kemudian bangun motivasi untuk hal yang sederhana: mencoba memberi dari hal terkecil─membagi apa yang mampu dibagi─dengan kalkulasi restriksi atas segala keterbatasan. Tidak selalu tentang pemberian materi, tetapi tentang pencurahan tenaga, waktu, dan ilmu. Cukup kemauan dan komitmen sebagai modal termahal.
To live, to learn, and to give.
Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, belajar dari siapa saja, dan membagi apa yang mampu dibagi. Semoga kita bisa menjadi berkah bagi sesama :)
Salam,
Ginta
Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, belajar dari siapa saja, dan membagi apa yang mampu dibagi. Semoga kita bisa menjadi berkah bagi sesama :)
Salam,
Ginta

Comments
Post a Comment