Trip Highlights: Makassar & Toraja, 2019

Sedikit berbagi cerita tentang perjalanan ke Sulawesi beberapa pekan lalu. Menuangkan sebagian ingatan ke dalam tulisan, sebagai wujud apresiasi terhadap orang-orang yang saya temui dan peristiwa yang saya lalui.




Diawali dengan berkeliling kota Makassar sambil menunggu bus malam menuju Toraja. Saya tiba di bandara siang hari, lalu meluncur menuju Fort Rotterdam. Selepas berjalan-jalan seorang diri, saya berjumpa dengan kakek pengayuh becak yang mangkal di depan Fort Rotterdam. Saya selalu senang naik becak. Tanpa saya sadari, naik becak (jika kebetulan ada) menjadi semacam agenda wajib di setiap kota yang saya kunjungi ketika solo traveling. Jadi lah saya berkeliling sore-sore di kota Makassar bersama kakek tersebut.





Beliau bernama Pak Taju, usianya 62 tahunMenjadi tulang punggung keluarga, mimpi beliau sederhana saja: untuk terus bekerja supaya dua orang anaknya tidak putus sekolah. Meskipun itu berarti beliau harus berada jauh dari keluarganya di desa. Beliau rela tidur hampir setiap malam di Fort Rotterdam, demi mencari rejeki yang sesuai dengan sisa-sisa kapasitas di usianya yang tidak lagi muda. Beliau hanya pulang sesekali saja, "tergantung rejeki," katanya. Yang menyesakkan hati saya adalah ketika beliau berkata bahwa dalam kurun waktu 3 hari, saya adalah penumpangnya yang pertama. Semakin rendahnya minat masyarakat terhadap transportasi konvensional seperti becak membuat penghasilan beliau turun drastis, terkikis kemajuan teknologi. Namun, hal tersebut tidak membuatnya ingin meninggalkan profesi yang sudah ditekuni selama sepertiga hidupnya, seakan sepenuhnya berserah kepada nasib. Betapa senangnya beliau mendapatkan penumpang, hingga bersedia mengantarkan ke terminal yang berjarak belasan kilometer. Tentunya, saya tidak mengiyakan, dengan konsiderasi pada waktu dan kondisi fisik beliau.



Malam harinya, saya bertemu dengan teman-teman relawan. Kami berangkat menuju ke Toraja dengan menggunakan bus malam. Perjalanan ditempuh selama 8 jam. Di Toraja, bukit demi bukit mewarnai pemandangan. Dalam beberapa waktu luang, ketika sedang tidak ada tugas kerelawanan, saya berjalan-jalan ke area perbukitan bersama teman-teman relawan seperjalanan. Banyak bukit yang indah dan masih sangat sepi, serasa milik sendiri. Dalam perjalanan-perjalanan itu lah, dipertemukan dengan beberapa warga lokal yang sedang menangani komoditas sumber mata pencaharian mereka, seperti padi, kopi, dan kacang. Banyak juga yang beternak kerbau. Salah satunya adalah pertemuan dengan dua orang ibu yang sedang panen kacang dan begitu baik hati memberikan hasil panennya sebagai buah tangan.






Juga dipertemukan dengan anak-anak yang menjadi teman main dan jalan-jalan sore. Mereka begitu bersemangat ketika saya mengajarkan cara menggunakan kamera. Rasa ingin tahu dan daya serap yang tinggi, menjadi semacam kombinasi yang memudahkan mereka menangkap apa-apa saja yang saya ajarkan. Jadilah mereka mencoba menangkap momen-momen dari balik lensa. Kemudian, dua orang anak, Yosefa dan Tevi, menemani jalan-jalan ke atas bukit, "bukit teletubbies" sebutannya. Mereka mendaki dengan sangat cepat, lalu meneriakkan nama saya ketika sampai ke puncak, memanggil-manggil untuk menyusul mereka. Ketika saya menyusul mereka ke puncak, dari atas sana, saya dapat menyaksikan pemandangan perbukitan Toraja yang begitu indah membentang. 360 derajat, tanpa penghalang pandangan. Seperti baris-berbaris, lapis demi lapis. Surely worth the hike.






Pada hari yang lain, seusai menyeruput kopi, saya dan teman-teman juga mengunjungi beberapa destinasi yang menjadi atraksi favorit di Toraja, seperti rumah adat di Nak Gendeng dan makam gantung di Londa. Yang sangat khas dari Toraja adalah budaya pemakaman mereka. Makam gantung dibuat agar tidak menghabiskan lahan, yang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam sebagai sumber penghidupan mereka. Di Toraja, peti-peti mati tidak dikubur di dalam tanah, tetapi ditumpuk di dalam rumah atau goa. Pada jaman dahulu, semakin tinggi kasta seseorang, semakin tinggi pula letak makamnya di balik gunung.



Upacara pemakaman di Toraja sangat mahal karena harus mengadakan pesta besar-besaran yang mengundang dan melibatkan warga setempat. Juga harus dilangsungkan dengan memotong beberapa kerbau, yang dianggap sebagai kendaraan pengantar ke akhirat. "Kalau tidak punya uang 500juta, rasanya belum aman untuk mengadakan pesta", kata salah seorang warga lokal. Jika uang belum cukup, jasad akan disimpan terlebih dahulu. Sampai waktunya dibuatkan pesta, almarhum dianggap belum meninggal dan hanya sekarat. Jasad akan dimasukkan ke peti bersama harta benda yang disukai ketika masih di dunia. Status sosial dan ekonomi seseorang akan menentukan benda yang "dibawa mati". Katanya, orang-orang dari kalangan atas akan dipetikan bersama perhiasan, sementara rakyat jelata hanya dengan sarung.






Kembali ke Makassar, kami mengunjungi Pulau Samalona, pulau kecil di Barat Daya Sulawesi Selatan, hanya sekitar 30 menit dari Makassar. Air laut di pulau ini begitu jernih, berpadu dengan pantai pasir putih. Namun sayang, ketika snorkeling, kaki saya tertusuk bulu babi. Alhamdulillah, dengan penanganan yang cepat, saya tidak merasakan efek racun dari durinya. Kami juga mengunjungi Rammang-Rammang pada sore harinya. Naik perahu menyusuri sungai dengan gugusan karst yang membentang di sepanjang jalan, berhenti di dusun Rammang-Rammang yang sangat asri dan indah. Lalu, kembali naik perahu sambil menikmati matahari terbenam yang mengintip dari sela-sela pohon. Tidak lupa juga kami berwisata kuliner. Berkunjung ke Makassar rasanya tidak lengkap jika tidak mencicipi kuliner khas Makassar, seperti coto, palubassa, konro, dan baso ati raja.





Kemudian, perjalanan ditutup dengan tangisan salah seorang teman relawan yang mengantarkan sampai ke bandara. Tangisan melepas kepergian, terselip harapan untuk dapat bertemu lagi di lain kesempatan. Ini merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dari setiap perjalanan: bertemu dan berjejaring dengan orang-orang baru. Kemudian saling bertukar kontak untuk mempererat tali silaturahmi. Semoga dapat bertemu lagi di lain waktu :)




Sekian,
Ginta

Comments

Popular Posts