Menjadi Relawan Pendidikan di Toraja

Maka, bantuan pendidikan tidak hanya perihal pengembangan individual peserta didik atau perbaikan fasilitas fisik, tetapi juga tentang pembekalan para pendidik. Eskalasi kualitas pendidikan dengan fokus pada peran guru—pada sumber dari mana ilmu itu disalurkan. Sesuatu yang lebih dasar dan mengakar.

Akhir pekan ketiga bulan Juli, saya kembali melakukan kegiatan kerelawanan. Saya diberikan amanah untuk berbagi sebagai narasumber dalam pelatihan guru di Bonggakaradeng, Toraja, Sulawesi Selatan. Sebuah daerah yang jauh dari akses informasi mengenai perkembangan metode dan proses pengajaran.

Setelah berkeliling sendirian di Makassar, malam harinya saya bertemu dan berkenalan dengan relawan yang lain. Kami bersama-sama berangkat ke Toraja menggunakan bus malam dengan durasi tempuh 8 jam. Dengan berbekalkan 1 backpack dan 1 tas kanvas, seperti biasa menimbulkan komentar, "bawaan kamu cuma segini?", pertanyaan yang biasa saya dengar setiap bepergian. Yaaa, the art of packing and backpacking hehehe. Bus yang ditumpangi cukup nyaman sehingga bisa tertidur dengan lelap, meskipun diiringi lagu Bryan Adams yang diputar kencang-kencang semalaman. Sampai di Toraja, kami berangkat menuju lokasi menggunakan mobil bak terbuka menyusuri pegunungan. Jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke lokasi cukup terjal, meliuk-liuk dengan jurang di kanan-kiri, dan rusak di beberapa titik. Namun, pemandangan indah perbukitan Toraja di sepanjang jalan menjadi atraksi tersendiri.





Saya yang tidak punya latar belakang sarjana pendidikan sempat meragukan kapabilitas saya sendiri untuk menjadi pemateri dalam pelatihan ini. Inferioritas yang muncul sebagai manifestasi kesangsian terhadap diri sendiri. Saya suka mengajar, dan beberapa kali menjadi relawan dalam bidang pendidikan. Namun, kegiatan kali ini rasanya sangat berbeda, karena target dari pelatihan ini adalah guru-guru SD, SMP, dan SMA. Saya harus menyampaikan materi terkait metode belajar-mengajar kepada beliau-beliau yang sudah berpengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi guru.

Kemudian saya menertawakan nyali saya sendiri. Ketakutan dan keraguan pasti muncul sebelum kamu benar-benar mengetahui sesuatu. "Coba dulu, maka kamu akan tahu". Kata saya kepada diri saya sendiri. Sebuah mantra yang menjadi semacam peneguh hati, agar saya yakin untuk melakukan apa pun yang berada di luar zona nyaman saya. Sambil juga meyakini bahwa niat baik akan menuai sesuatu yang baik. Terkadang asumsi dan spekulasi yang melintas dalam kepalamu sendiri dapat menjadi sekat yang membatasi ruang gerakmu. Akhirnya, saya memberanikan diri melangkah.

You just need to take the first step, be out of your comfort zone. If it is something that makes you thrilled, then it is worth doing, or at least worth trying. 

Dari yang saya amati melalui kegiatan ini, masalah pada pendidikan di Indonesia bukan hanya ada pada siswa, tetapi juga pada efektivitas proses pembelajaran di kelas. Maka, bantuan pendidikan tidak hanya perihal pengembangan individual peserta didik atau perbaikan fasilitas fisik, tetapi juga tentang pembekalan para pendidik. Eskalasi kualitas pendidikan dengan fokus pada peran guru—pada sumber dari mana ilmu itu disalurkan—sesuatu yang lebih dasar dan mengakar. Niscaya, implementasinya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di pelosok-pelosok Indonesia. Karenanya, pengembangan skills guru dalam mengajar sangat diperlukan, terutama di daerah-daerah rural di Indonesia. Salah satunya dengan membuka akses guru terhadap metode-metode yang efektif dan mudah dicerna.

Pengetahuan baru dan pengembangan diri yang dirasa perlu dituangkan dalam beberapa materi pelatihan: disiplin positif, motivasi guru, brain-based teaching, dan metode belajar kreatif. Penyampaian materi dilakukan oleh para relawan narasumber kepada peserta pelatihan yang berjumlah sekitar 54 orang, dengan dikoordinasikan oleh panitia lokal. Relawan datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Sebuah kontribusi kolektif untuk mengusahakan kemajuan pendidikan di Indonesia. Dipertemukan dalam suatu wadah kontribusi sebagai ruang untuk berbagi ilmu, untuk hadir dan menyaksikan langsung keterbatasan yang dihadapi, serta untuk mendengar langsung keluh kesah dan harapan para guru.




Dalam pelatihan ini, saya dipercaya untuk menyampaikan materi tentang metode belajar kreatif (MBK) matematika kepada guru-guru SD dan SMP. Materi diberikan menggunakan metode permainan kelompok, seperti memperagakan garis bilangan dengan menggunakan petak-petak lantai, pemecahan domino dan sudoku, serta perkalian berantai. Concrete-Pictorial-Abstract juga merupakan salah satu materi yang disampaikan, yaitu pemanfaatan benda-benda nyata (misalnya: kuaci) untuk visualisasi perhitungan (misalnya: perkalian), untuk kemudian ditranslasikan ke dalam bentuk notasi abstrak.




Ternyata para guru sangat terbuka dengan ide-ide baru. Tidak ada arogansi seperti merasa "digurui". Malahan, mereka sangat antusias dan aktif dalam menjalani pelatihan ini. Antusiasme ditunjukkan melalui kehadiran para guru yang tinggal jauh dari lokasi, dari daerah-daerah yang lebih terpelosok dan belum ada listrik. Antusiasme juga ditunjukkan melalui rasa ingin tahu dan respon yang positif. Bahkan ketika berada di luar sesi pelatihan, mereka dengan semangat tetap berdiskusi mengenai materi pelatihan dan mencoba berbagai macam permainan yang disajikan. Dan alhamdulillah, mendapat respon yang sangat positif! Banyak guru yang terinspirasi untuk menerapkan materi yang diberikan ke dalam proses pembelajaran di kelas. Mereka merasa bahwa kegiatan ini bermanfaat dan berharap untuk diadakan lagi kegiatan serupa ke depannya.





Menyelipkan misi pendidikan di tengah-tengah perjalanan. Menebar kebermanfaatan, sekaligus menuai pembelajaran. Karena pembelajaran adalah bagian terbaik dari setiap perjalanan, yang datangnya bisa dari siapa saja, dengan cara apa saja. Lalu, berjejaring dengan orang-orang hebat dan baik hati, yang rela datang jauh-jauh untuk berbagi. Juga dengan panitia lokal yang sudah berjuang agar kontribusi positif ini dapat terlaksana. Mungkin tidak banyak yang bisa diberikan, hanya memberi apa yang mampu diberi: waktu, tenaga, dan ilmu, dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah, mendapatkan antusiasme dan respon yang sangat positif. Karena perlu diyakini, bahwa langkah kecil dan niat baik, jika dilakukan bersama-sama, dapat membawa perubahan yang besar. Insya Allah :)





Sekian,
Ginta

Comments

Popular Posts