Peringatan Hari Kartini: Tentang Perempuan, Feminisme, dan Perjuangan
Terlepas dari makna feminisme yang diartikan berbeda-beda bagi setiap orang, bagi saya sendiri, setiap perempuan adalah pejuang, dengan segala bentuk perjuangannya masing-masing.
“Are you a feminist?” tanya Carolina, seorang teman dari Argentina dalam pertemuan kami di Kenya, setelah mengetahui saya memilih menjadi relawan untuk program pemberdayaan perempuan. Sambil memasukkan barang ke dalam tas, saya yang tidak ingin salah interpretasi soal makna feminisme itu sendiri, sempat berpikir sejenak, kemudian hanya tersenyum. Mengartikan sendiri respon yang saya berikan, ia mengeluarkan sebuah buku terjemahan Spanyol dari dalam tasnya, The Second Sex karya Simone de Beauvoir, tokoh feminis dunia asal Prancis. "Then, you must love this one!"
Mengambil contoh kehidupan Simone de Beauvoir sebagai panutan dalam berpikir dan berperilaku bisa jadi terlalu ekstrim dan bertentangan dengan budaya ketimuran. Hal ini juga yang menjadi perdebatan di salah satu media sosial yang sempat saya amati beberapa waktu lalu. Mereka yang anti-feminisme melawan mereka yang pro-feminisme. Yang anti-feminisme menggeneralisasikan paham ini dengan kecenderungan pembangkangan perempuan terhadap budaya dan ajaran agama. Yang pro-feminisme menentang dengan menekankan bahwa segala hak perempuan yang sekarang bisa kita nikmati (termasuk hak kubu anti-feminisme untuk bebas berpendapat di media sosial) adalah buah dari paham feminisme itu sendiri.
Mencoba menabrakkan paham feminisme dengan ajaran agama bisa-bisa malah berujung perpecahan. Karena beda akar, beda acuan. Padahal bisa jadi sebetulnya masing-masing kubu sama-sama mengamini hal yang itu-itu juga, meskipun dengan lensa yang berbeda. Barangkali tidak semua hal benar-benar hitam atau putih. Karenanya, tidak perlu mempersempit makna dalam segala persoalan. Dalam ajaran agama pun, kita sama-sama meyakini bahwa pada hakikatnya setiap perempuan dimuliakan. Dan feminisme bisa jadi memiliki makna yang lebih luas, tidak melulu soal pemberontakan dan pembangkangan. Terkadang hanya sekadar menuntut hak hidup agar dapat menjadi manusia yang utuh, terlepas dari marginalisasi dan diskriminasi, jauh dari pelecehan dan penindasan. Sebagaimana yang diperjuangkan oleh Kartini semasa hidupnya.
Saya sendiri lahir dan besar dalam keluarga dengan kondisi yang mendukung emansipasi. Kondisi finansial keluarga pasca krisis moneter 1998 mengharuskan ibu dan ayah bertukar peran demi menghidupi keluarga. Tidak mudah untuk seorang perempuan yang kala itu hanya seorang ibu rumah tangga untuk "keluar" rumah mencari nafkah. Tanpa bekal ijazah perguruan tinggi, tanpa bekal kenalan. Hanya berbekalkan keberanian turun ke jalan, mengetuk pintu demi pintu, menawarkan asuransi, menyiapkan diri dengan segala bentuk penolakan. Nyatanya, ibu saya mampu berdiri di atas kaki sendiri selama bertahun-tahun, berjuang di dalam arena pergelutannya sendiri. Karenanya, sejak kecil, saya selalu percaya bahwa setiap perempuan mempunyai kekuatan yang tidak terperkirakan untuk dapat berkarya dan berdaya.
Saya sendiri lahir dan besar dalam keluarga dengan kondisi yang mendukung emansipasi. Kondisi finansial keluarga pasca krisis moneter 1998 mengharuskan ibu dan ayah bertukar peran demi menghidupi keluarga. Tidak mudah untuk seorang perempuan yang kala itu hanya seorang ibu rumah tangga untuk "keluar" rumah mencari nafkah. Tanpa bekal ijazah perguruan tinggi, tanpa bekal kenalan. Hanya berbekalkan keberanian turun ke jalan, mengetuk pintu demi pintu, menawarkan asuransi, menyiapkan diri dengan segala bentuk penolakan. Nyatanya, ibu saya mampu berdiri di atas kaki sendiri selama bertahun-tahun, berjuang di dalam arena pergelutannya sendiri. Karenanya, sejak kecil, saya selalu percaya bahwa setiap perempuan mempunyai kekuatan yang tidak terperkirakan untuk dapat berkarya dan berdaya.
Terlepas dari makna feminisme yang diartikan berbeda-beda bagi setiap orang, bagi saya sendiri, setiap perempuan adalah pejuang, dengan segala bentuk perjuangannya masing-masing. Perjuangannya bisa jadi berbeda-beda, namun seringkali tentang kehidupan. Mulai dari hal yang paling fitrah: perjuangan membawa kehidupan ke dunia dan membesarkan keturunan-keturunan dari rahim seorang pejuang. Juga perjuangan dalam menuntut hak hidup: hak untuk bermimpi, memperoleh pendidikan yang layak, mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama, memiliki kebebasan dalam menyuarakan pendapat, dan hak dalam pengambilan keputusan. Tentunya, tanpa mengesampingkan kewajiban dan tanggung jawab atas perannya sebagai seorang perempuan.
Untuk perempuan-perempuan Indonesia yang sedang sama-sama berjuang, selamat hari Kartini! Semoga masing-masing dari kita selalu meyakini bahwa tidak ada puncak gunung yang terlalu tinggi untuk ditapaki.
Mari terus bermimpi, mari terus berjuang.
Berkarya untuk berdaya :)
Salam,
Ginta
Ditulis di dalam bus yang melaju dari Budapest menuju Vienna, 21 April 2019.

Comments
Post a Comment