Peringatan Hari Perempuan Sedunia: Edukasi untuk Perempuan-Perempuan di Afrika

"Extremists have shown what frightens them most: a girl with a book" - Malala Yousafzai
Ingin sedikit berbagi cerita mengenai pengalaman menjadi relawan di Afrika bulan lalu. Saya ikut bergabung dalam sebuah program sosial dengan fokus pada pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Program ini digarap di Gihon Women Center Kintengela, Kenya. Melalui kegiatan ini, saya belajar banyak tentang berbagai macam hal. Terutama tentang hak perempuan atas edukasi di belahan lain dunia serta benteng kultur yang menjadi penghalangnya. Saya sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan perempuan-perempuan yang luar biasa menginspirasi.

Di Kenya, secara umum, akses perempuan terhadap edukasi masih sangat terbatas. Kesenjangan yang mengatasnamakan adat dan budaya menjadi dinding pembatas. Dependensi sistematis menjadi restriksi bagi perempuan untuk menjadi berdikari. Atas nama kultur, suku-suku tertentu masih menjalankan tradisi yang tidak wajar, seperti female genital mutilation dengan praktik yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan perempuan. Banyak juga pengertian dan pengetahuan yang salah yang ditanamkan sejak kecil. Misalnya, pengetahuan tentang HIV. Mereka dibuat percaya bahwa HIV terjadi karena sihir atau bencana. Mereka dibuat percaya bahwa pengidapnya adalah para pendosa yang kena "kutukan" dari semesta dan tidak  punya harapan untuk hidup. Padahal HIV bukan lah death sentence. Pengidap HIV berhak (dan dapat) hidup layaknya orang-orang normal.

Gihon Women Center sendiri dijalankan sejak tahun 2015 oleh seorang perempuan lokal bernama Agnes. Bermula dari feeding program untuk perempuan dan anak-anak yang terlantar, Agnes merasa perlu memberikan asupan lain yang memberikan manfaat jangka panjang. Beliau memutuskan untuk memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan, supaya nantinya perempuan-perempuan ini bisa menjadi mandiri dan berdikari. Di Gihon Women Center juga terdapat perkumpulan perempuan yang positif mengidap HIV, bernama Positive Minds. Bersebelahan dengan Women Center, Agnes dan ibunya juga mengelola sekolah untuk anak-anak yang kurang beruntung, sampai-sampai ada juga anak-anak refugee dari Kongo.

Meet Agnes, Pendiri Gihon Women Center
Agnes is sooo inspiring! Setiap pagi, sebelum kegiatan dimulai, Agnes memberikan motivational talk untuk membakar semangat perempuan-perempuan di Women Center. Topik yang dibahas bermacam-macam, diantaranya adalah tentang keberanian, self-love, dan kepercayaan diri. Agnes selalu berbicara dan bekerja dari hati. She has the purest soul. Pada suatu kesempatan ketika pulang dari Women Center, saya berbincang-bincang dengan Agnes. Beliau bercerita tentang bagaimana memulai sebuah gerakan untuk menolong orang lain. "Nothing was easy from the beginning, but don't you ever give up". Saya pun bercerita tentang kondisi yang ada di Indonesia dan beliau menyambut:

"You can always do something for your people. They are there and need your help, help them."

Dua kalimat pendek yang mampu menggerakkan hati. Dua kalimat pendek yang keluar dari mulut seorang perempuan yang sangat menginspirasi. 40 menit perjalanan pulang kala itu sangat berarti untuk membuka mata dan hati.

Perempuan-perempuan di Gihon Women Center

Perempuan-perempuan yang tergabung dalam Gihon Women Center memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mayoritas dari mereka memiliki latar belakang yang kurang beruntung. Ada yang pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, dipaksa menikah di usia muda, serta positif mengidap HIV (bahkan ada yang membawanya sejak lahir). Kebanyakan dari mereka tidak pernah mencicipi bangku sekolah. Mereka datang dari daerah terpencil ke Nairobi atau daerah sub-urban seperti Kitengela untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Bahkan banyak dari mereka yang tidak punya Kartu Tanda Penduduk, yang membuat mereka menjadi penduduk ilegal yang menetap di Kenya.

Kegiatan di Gihon Women Center dilakukan untuk memberikan pembekalan soft-skill dan hard skill supaya anggotanya dapat menambah wawasan dan kemampuan mereka. Para perempuan ini diberikan materi rutin terkait keterampilan seperti menjahit dan merias rambut. Di Afrika, riasan pada rambut atau hair-dressing sangat diminati dan memiliki prospek yang baik. Harapannya, setelah lulus dari Women Center, mereka dapat membuka usaha sendiri supaya lebih berdaya dan mandiri. Mereka juga dipaparkan dengan perkembangan teknologi melalui pelatihan komputer. Selain materi keterampilan dan komputer, mereka juga disuguhi pengetahuan umum dan pelatihan soft-skills yang relevan dengan kondisi mereka, seperti materi tentang domestic violence, kanker payudara, sampai materi tentang kewirausahaan, manajemen finansial, dan manajemen bisnis.


Foto terakhir sebelum pulang ke Belanda


Yang paling berkesan dan membuat saya takjub adalah semangat mereka yang sangat besar untuk menyerap ilmu-ilmu baru. Setiap pagi, sebelum kegiatan dimulai, mereka akan memanjatkan doa dalam bentuk nyanyian-nyanyian penuh semangat. Ketika diberikan materi, mereka akan mencatat dengan antusias. Namun, terkadang mereka sulit memilah-milah poin mana yang paling penting untuk dicatat dan diingat, sampai-sampai mencatat literally setiap kata. Mereka bisa mengerti bahasa inggris basic, sehingga tidak ada kendala yang berarti dalam komunikasi. Meskipun terkadang harus diterjemahkan dan dijelaskan ulang oleh warga lokal yang juga merupakan salah satu relawan. Melihat kegigihan dan ketekunan mereka, saya yakin bahwa setiap wanita, dari kalangan apa pun, punya kekuatan yang tak terperkirakan. Mungkin kesetaraan gender di Kenya masih jauh untuk dicapai, namun bukannya suatu kemustahilan.



Sekian,

Ginta

Comments

Popular Posts