Beasiswa S2 (Master's Degree) ke Luar Negeri
Investasi pada peningkatan
kualitas sumber daya manusia saat ini menjadi hal yang lumrah terjadi di
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Masyarakat yang mulai peduli pada
pendidikan mendorong investasi pada lingkup yang paling kecil; investasi
pendidikan bagi anak-anak mereka sendiri, sampai bangku tertinggi. Di India,
tidak jarang orang tua rela menjual apa yang dapat mereka jual─rumah, tanah,
sawah─demi pendidikan anak sampai ke luar negeri. Begitu pula halnya dengan
Indonesia, orang tua rela menggadaikan harta benda yang dimiliki agar anak-anak
mereka dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Pengembangan
ini juga didukung oleh banyak pihak, yang menawarkan bantuan dana pendidikan
untuk studi lanjut, bahkan sampai pada jenjang S2 dan S3. Dari berbagai payung
instansi, baik pemerintah maupun swasta, saling bersinergi untuk mengembangkan
sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan yang layak bahkan sampai ke luar
negeri. Salah satu wujud investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang
unggul dan dapat bersaing secara global.
Beasiswa
yang paling terkenal tentunya adalah beasiswa dari pemerintah, yaitu beasiswa
LPDP. Salah satu beasiswa yang terkenal dermawan dalam nominal allowancenya.
Beasiswa ini menawarkan bantuan pendidikan untuk universitas-universitas di
dalam dan di luar negeri. Cakupan negara yang luas membuat beasiswa ini menjadi
beasiswa yang paling diminati. Karenanya, seleksi beasiswa LPDP sangat ketat.
Ditambah lagi, pada tahun ini, panitia membatasi pilihan kampus pada jenis
beasiswa S2 reguler.
Yang perlu kamu ketahui, beasiswa S2 ke luar negeri bukan cuma
LPDP. Alangkah baiknya untuk riset terlebih dahulu supaya tahu beasiswa-beasiswa
apa saja yang tersedia di negara atau kampus yang kamu minati.
| Pelajar-pelajar Indonesia di Belanda |
Berbicara
soal beasiswa S2, tidak hanya LPDP yang menawarkan bantuan finansial untuk
menimba ilmu di berbagai belahan dunia. Beberapa instansi pemerintah lainnya,
seperti Kementerian Ristekdikti dan Kominfo pun menawarkan bantuan pendidikan
tinggi ke luar negeri. Tidak hanya itu, bahkan pemerintah negara tujuan juga
turut menyelenggarakan seleksi beasiswa S2 untuk putra dan putri terbaik
bangsa. Beberapa kampus di luar negeri juga membuka kesempatan bagi kita untuk
mendapatkan dukungan finansial baik full-scholarship maupun
partial-scholarship.
Saya
sendiri alhamdulillah tahun ini diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di
TU Delft, Belanda dengan beasiswa StuNed. Program yang merupakan bagian dari
kerjasama bilateral pemerintah Belanda dan Indonesia. Sebelum akhirnya
memutuskan untuk menempuh pendidikan S2 di Belanda, saya sempat ngulik berbagai
informasi mengenai beasiswa S2 di beberapa negara yang saya minati.
Sedikit yang saya ketahui, namun ingin saya bagi. Semoga kelak
dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membaca tulisan ini :)
Hal
yang paling pertama saya lakukan adalah riset untuk membatasi pilihan. Karena
pilihan sungguh tak terbatas dan keleluasaan tidak selamanya baik, terlebih
jika menyangkut pilihan hidup yang cuma bisa satu. Tentukan sendiri batasan
supaya pilihan mengerucut, terutama dari kesesuaian program studi. Saya
menentukan ingin mengambil jurusan Management of Technology atau Innovation
Management, karena bidang ini yang saya minati dan sesuai dengan latar belakang
pendidikan pun pekerjaan saya. Ketika S1, saya mengambil jurusan Teknik
Industri di Universitas Indonesia dan bekerja di technological-based start-up
setelah lulus.
Dari
sekian banyak pilihan negara untuk lanjut studi, saya mengerucutkan pilihan ke
beberapa negara yang saya minati; UK (anggap lah UK sebagai satu entitas),
Belanda, Amerika Serikat, dan Australia. Dari negara-negara tersebut, saya gali
universitas mana saja yang memiliki program studi Management of
Technology/Innovation Management dengan kurikulum yang sesuai dengan yang ingin
saya pelajari. Setelah menyekatkan pilihan negara dan universitas, saya mencari
tahu full-scholarship apa saja yang tersedia.
United Kingdom (UK):
- Tidak harus memiliki LoA pada saat mendaftar
- IPK minimum 3.0
- IELTS minimum 6.5, TOEFL iBT minimum 80, TOEIC minimum 800
- Dokumen: KTP/paspor, surat keterangan berbadan sehat, surat keterangan bebas TBC, surat keterangan bebas narkoba, surat rekomendasi tokoh masyarakat/atasan, surat pernyataan, ijazah, transkrip, sertifikat IELTS/TOEFL/TOEIC, rencana studi, statement of purpose
- Periode pendaftaran: 2 Juli - 21 September 2018
- Chevening (http://www.chevening.org/indonesia)
- Tidak harus memiliki LoA pada saat mendaftar
- IELTS minimum 6.5, TOEFL iBT minimum 79
- Memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun
- Dokumen: KTP/paspor, ijazah, transkrip, 3 pilihan master's courses di UK, 2 pemberi referensi (profesional dan akademis)
- Periode pendaftaran: 6 Agustus - 6 November 2018
Belanda:
- LPDP (sebagaimana
yang sudah dijabarkan)
- Harus sudah memiliki LoA ketika mendaftar
- IPK minimum 3.0
- IELTS minimum 6.0, TOEFL iBT minimum 80
- Bidang prioritas:
- Perdagangan internasional, keuangan, dan ekonomi
- Transportasi, (Agro) Logistik, dan Infrastruktur
- Keamanan dan Penegakan Hukum
- Agro-Pangan dan Hortikultura
- Dokumen: KTP/paspor, LoA, transkrip, ijazah, surat rekomendasi atasan, surat pernyataan, sertifikat IELTS/TOEFL, motivation statement
- Periode pendaftaran: Di awal tahun, sekitar Januari - Maret
- TU
Delft Excellence Scholarship (https://www.tudelft.nl/onderwijs/praktische-zaken/scholarships/)
- Beasiswa yang diselenggarakan oleh TU Delft
- Ada additional form yang harus diisi. Submit form tersebut sekaligus dengan dokumen-dokumen lain untuk pendaftaran kuliah
- Deadline pendaftaran: Sekitar November/Desember
- Orange
Knowledge Program (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/orange-knowledge-program)
- Beasiswa bagi kamu yang mendedikasikan diri untuk mengembangkan suatu organisasi/perusahaan, yang mana kamu bersedia untuk kembali mengabdi ketika masa studi selesai. Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan bekal ilmu bagi sumber daya manusia di dalam organisasi yang masih berkembang sehingga dapat memajukan organisasi tersebut.
- Diselenggarakan selama 2017-2022
- Deadline pendaftaran: Februari, Juni, September
Amerika Serikat:
- LPDP (sebagaimana
yang sudah dijabarkan)
- Fullbright (https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/scholarship/fulbright-masters-degree-scholarship/)
- Berlaku untuk semua bidang kecuali medical sciences
- IPK minimum 3.0
- TOEFL ITP minimum 550 atau IELTS yang ekuivalen
- Dokumen: KTP/paspor, application form termasuk tujuan studi, sertifikat TOEFL/IELTS, 2 surat referensi (profesional atau akademis), ijazah, transkrip, CV/resume
- Deadline pendaftaran: 15 Februari 2019
Australia:
- LPDP (sebagaimana
yang sudah dijabarkan)
- Australia
Awards (http://australiaawardsindonesia.org/content/35/12/how-to-apply?sub=true)
- IPK minimum 2.9
- IELTS minimum 5.5, paper-based TOEFL 525, internet-based TOEFL 69
- Ada tes IELTS dalam komponen seleksi serta training bahasa untuk persiapan keberangkatan
- Dokumen: KTP/paspor, akta kelahiran, CV/resume, ijazah, transkrip, sertifikat IELFTS/TOEFL, online application form
- Periode pendaftaran: sekitar Februari - April untuk intake di tahun depannya
Lagi-lagi,
semua tentang determinasi. Berani menentukan dan mengambil keputusan. Mimpi
terbesar saya adalah untuk menuntut ilmu di Eropa, sang benua biru. Karenanya,
pada akhirnya, saya hanya mendaftar program Management of Technology di TU
Delft untuk mengarahkan fokus pada satu titik. Tentunya, setelah memastikan
bahwa kurikulum dan materi pembelajarannya sesuai dengan yang ingin saya
tekuni. Ketika mendapatkan letter of acceptance (LoA) dari kampus terkait untuk
intake 2018, seluruh usaha saya tercurah untuk mengejar beasiswa ke Belanda.
Tidak
lama setelah mendapat LoA dari TU Delft, saya mendaftar beasiswa StuNed.
Beasiswa ini mengharuskan untuk memiliki LoA terlebih dahulu. Terdapat empat
bidang prioritas sebagaimana dijabarkan di atas. Cukup terkejut ketika saya
dinyatakan lolos seleksi karena program studi yang saya pilih sebetulnya tidak
murni di bidang-bidang prioritas tersebut. Namun, apa yang ingin saya tuju dan
ingin saya selami melalui peminatan masih berhubungan dengan salah satu dari
prioritas bidang. Proses seleksi beasiswanya sendiri tidak memakan waktu yang lama,
bahkan para penerima beasiswa dapat berangkat di tahun yang sama dengan tahun
mereka mendaftar beasiswa, sehingga tidak perlu mengajukan defer (meminta untuk
intake tahun depannya) ke kampus yang bersangkutan.
Jika boleh berbagi pandangan, determinasi dan persistensi adalah
dua hal yang fundamental. Sebelum memutuskan untuk studi S2, banyak-banyak
kontemplasi untuk tahu kebutuhan diri, lalu upayakan dengan segala daya untuk
kemudian berserah di penghujung hari.
Renungi
dengan jujur, apakah perlu S2? Karena sesungguhnya setiap tempat adalah ruang
untuk menimba ilmu, tidak hanya ruang kelas. Bahkan ruang kantormu bisa jadi
lebih kaya akan ilmu. Ilmu yang implementasinya lebih nyata dan praktis.
Renungi juga, apakah perlu sampai ke luar negeri? Karena bisa jadi apa yang kamu cari justru ada di dalam negerimu sendiri. Sebagai pengingat,
termasuk saya kepada diri saya sendiri, jangan sampai terjebak dalam membedakan
antara keinginan dan kebutuhan. Supaya tidak tersesat karena mengarungi arus
yang tidak semestinya.
Yang
terpenting, tahu apa yang mau dilakukan dengan gelar tersebut. Karena
seharusnya S2 bukan lah merupakan tujuan akhir, bukan pula tujuan yang terpisah
dari mimpi yang lebih besar. Tetapi justru menjadi pijakan yang dapat kamu daki
untuk mencapai mimpi yang lebih besar tersebut. Jadi, pastikan bahwa kamu menanjak
pada setapak yang sejalan dengan tujuan hidup kamu, baik visi maupun misi (coba
baca buku The Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey
mungkin bisa membantu hehe). Singkat kata, tahu dulu tujuan besarnya, lalu
tarik benang merah antara apa yang sudah kamu lakukan, studi S2 kamu, dan apa
yang akan kamu lakukan setelah lulus.
Salah
satu pembahasan yang sering muncul adalah tentang peluang lolos seleksi dan
kaitannya dengan pengalaman berkegiatan sosial. Sejujurnya saya tidak
tahu-menahu tentang detail penilaian masing-masing individu. Tetapi, kalau dari
yang saya amati, begini: ada beberapa teman yang tidak berkegiatan sosial tapi
bisa lolos seleksi, ada juga yang benar-benar memberikan impact to society tapi
tidak lolos seleksi. Jadi, sebetulnya kembali lagi ke individu masing-masing,
seberapa sanggup mereka meyakinkan komite seleksi bahwa investasi yang akan
diberikan adalah investasi yang optimis dan tepat sasaran. Yang paling penting adalah apa yang
mau kamu lakukan ketika kembali ke tanah air dengan gelar dan ilmu yang kamu
dapat. Alangkah baiknya jika yang mau kamu lakukan itu bisa berdampak bagi
banyak orang, tidak hanya dirimu sendiri.
Kepekaan
sosial pasti dilihat, tetapi jelas tujuan akhirmu yang terutama. Kolaborasikan keduanya namun tetap jujur. Bisa jadi
kental akan bumbu, namun yang penting tetap konsisten dengan apa yang kamu
janjikan ketika kamu kembali nanti. Lakukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan dan jangan sampai kamu "terpaksa" menunjukkan yang bukan
dirimu sampai akhirnya lupa menjadi dirimu sendiri. Stay true to yourself.
Insya Allah diberikan yang terbaik.
Hehe.
Sekian, semoga bermanfaat :)
Salam,
Angginta
R. Ibrahim

Comments
Post a Comment