Look Around Us

Untuk mereka yang terdekat dalam ruang.
Sejauh apa pun kita melangkah, semoga selalu ingat untuk pulang.

Mengingat kembali kejadian suatu sore di awal Agustus, ketika saya menghabiskan liburan musim panas di Indonesia. Kejadian yang sebenarnya sederhana, hanya berjalan-jalan di sekitar rumah, untuk merealisasikan wacana saya dan kakak perempuan saya untuk mengajar Bahasa Inggris di akhir pekan, sebagai salah satu wujud sumbangsih kami atas privilege mengenyam pendidikan di luar negeri. Sasaran edukasinya adalah anak-anak SD di belakang rumah, yang mayoritas berasal dari underprivileged background.

Setelah merancang kurikulum, metode belajar kreatif, dan perencanaan lainnya, jadi lah saya dan Ibu berkeliling ke belakang rumah. Menelusuri gang demi gang, mengetuk pintu demi pintu, sebagai media publikasi kepada anak-anak dan orang tua untuk menawarkan ikut kegiatan ini. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam belasan tahun terakhir, saya merasa begitu dekat dengan lingkungan tempat saya tinggal. Sejauh saya bisa mengingat, dulu sewaktu kecil, saya sering jalan-jalan di sekitaran rumah. Kadang sendirian, kadang beramai-ramai. Gang-gang yang saya hampiri sore itu masih terasa familiar. Walaupun banyak perubahan dimana-mana, namun rasanya tetap sama. Rasa yang selama belasan tahun terlupakan.

Rasanya malu. Jauh-jauh saya berkelana menembus pelosok dan melintasi benua, tetapi lupa rasanya berada di lingkungan terdekat saya sendiri. Jalan-jalan singkat sore itu membuka mata, untuk melihat lagi kondisi yang pernah saya saksikan belasan tahun lalu, namun dengan lensa yang berbeda. Untuk melihat langsung beragam kondisi masyarakat di sekitar saya, termasuk kondisi ekonomi, tempat tinggal, dan keluarga. Misalnya, ada seorang ibu, yang semenjak suaminya meninggal, harus merawat 6 orang anaknya seorang diri hanya dengan menjadi pedagang tissue asongan. Juga mendengarkan cerita dari seorang ibu yang lain, yang berkeluh kesah tentang kondisi anaknya di sekolah. Hal-hal yang tidak dapat saya ketahui jika saya tidak keluar rumah.

Rasanya seperti ditegur. Bahwa belum banyak yang saya lakukan untuk orang-orang yang paling dekat secara jarak. Kemana saja selama ini? Tidak perlu jauh-jauh bepergian, ternyata banyak orang di sekitar kita yang juga perlu dibantu: saudara, teman, tetangga, dan yang lainnya. Orang-orang dengan proksimitas terdekat, yang berada di sebelah pintu, hanya terpisah sedikit jarak. They are right under our nose. Masing-masing mungkin butuh pendekatan dan jenis bantuan yang berbeda, yang bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita senangi. Lagi-lagi, hanya kemauan dan komitmen yang menjadi modal termahal.


Jadi, sudah betul-betul mengenal lingkungan terdekatmu? Apa yang bisa dibantu?


Cheers,
Ginta

Comments

Popular Posts